Ujian yang Kreatif

“Kami berusaha untuk membuat ujian yang tidak monoton di akhir jenjang. Nggak itu-itu saja. Harus lebih kreatif!” kata Setya Dyah Rini Wulandari, Wakil Kepala SMP Santo Yakobus bidang kurikulum.

Ujian yang dimaksud adalah Penilaian Sumatif Kelas Akhir (PSKA). Dulu, kita menyebutnya Ujian Praktik.

Pada dasarnya, PSKA menguji tujuan pembelajaran yang sudah pernah disampaikan oleh guru kepada muridnya selama 3 tahun di SMP St. Yakobus.

Tahun Ajaran 2025/2026 lalu, tim guru SMP Santo Yakobus merencanakan PSKA yang belum pernah dilakukan sebelumnya: film pendek!

Dengan proyek film pendek ini, para guru mata pelajaran seni (Seni Tari, Seni Musik dan Seni Budaya dan Prakarya) bergabung dengan mata pelajaran Agama, Teknik Informatika dan Komunikasi, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin di awal Tahun Ajaran 2025/2026.

Kolaborasi ini terlihat dari tampilnya adegan menyanyi sambil menari di salah satu sudut ruang di kompleks Sekolah Santo Yakobus dalam film, alunan melodi yang menyertai berbagai adegan dan penataan properti layaknya sebuah studio untuk keperluan podcast.

“Soal kreativitas, kami memotivasi teman-teman guru untuk kreatif memberikan Capaian Pembelajaran (CP), terlebih di masa berlakunya Kurikulum Merdeka ya,” tutur Bu Rini.

Capaian Pembelajaran adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai setiap murid di akhir setiap fase dalam Kurikulum Merdeka. Inilah yang menjadi alat ukur untuk mengetahui kemampuan pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

“Yang namanya keterampilan, pengetahuan dan sikap, kami punya porsi sama. Tidak ada yang lebih penting dari ketiganya,” ungkap Bu Rini.

Ia menegaskan, guru mata pelajaran telah menetapkan CP setiap mata pelajaran. Sejauh tidak melenceng dari CP yang telah ditentukan, maka ada peluang bagi guru untuk berkreasi dalam pengajaran dan pengujian.

Tahun Ajaran 2024/2025, para murid kelas 9 membuat menu makanan dengan kasus tertentu, seperti pasien diabetes. Mereka harus merancang menu makanan apa saja yang cocok dan menjelaskan cara mengolah bahan makanan yang baik untuk pasien diabetes. Ini praktik PSKA mata pelajaran IPA.

Sedangkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, tim guru mengajak para murid kelas 9 untuk membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Mereka menuliskan pemikiran mereka dengan berdasar pada data, fakta dan teori. Meski bukan sebuah hasil riset dengan metolodogi canggih nan rumit, setidaknya ada satu hal penting yang harus mereka fahami dalam proses menulis KTI.

“Ini tentang bagaimana mereka mengambil karya orang lain sebagai dasar penulisan mereka. Bagi kami, ini penting banget! Jangan sampai ada plagiat,” jelas Bu Rini.

Untuk kenang-kenangan

“Ada sedikit rasa takut sih… Takut kalau orang-orang menilai filmnya belum bagus,” ujar Randy Sukatma, salah satu pembuat film pendek berjudul Finally Home.

Film yang berkisah tentang pasang surut hubungan asmara dua remaja ini merupakan salah satu dari empat film yang diuji dalam PSKA SMP Santo Yakobus Tahun Ajaran 2025-2026.

Di balik perasaan itu, Randy percaya, sebagai kerja tim bersama teman-teman sekelasnya, karya film pendek ini merupakan hasil kerja optimal mereka. Selebihnya, mereka serahkan penilaian ke tim guru penilai PSKA.

Ia masih ingat betul dinamika periode pembuatan film pendeknya. Sebagai kameramen, Randy harus siap di lokasi syuting sebelum teman-temannya datang dan pulang paling akhir. Sebagai editor, Randy dan rekannya, Noel harus mengedit ratusan footage adegan secara maraton. Mereka mengedit selama 9 jam di hari pertama dan 12 jam di hari kedua.

Periode semester genap di jenjang kelas 9 sungguh masa yang sangat sibuk. Mereka harus persiapkan diri untuk Sumatif Akhir Tahun (SAT), tryout, PSKA berbagai mata pelajaran, selain membuat film pendek. 

Kondisi yang demikian mengharuskan mereka bekerja kompak sebagai tim dan mengatur waktu sebaik mungkin.

Ketika ditanya perihal harapannya terhadap film ini, Randy hanya menjawabnya singkat. “Untuk kenang-kenangan di SMP St. Yakobus,” ujarnya sembari tersenyum.

Randy Sukatma, Yakobian yang kini kelas 10 SMA St. Yakobus, ditemui di Perpustakaan Sekolah St. Yakobus, lantai 7.

Semangat melakukan ‘lebih’

Para Yakobian kelas 9 menggarap pembuatan film pendek ini secara serius. Kesungguhan mereka tampak dari proses pematangan ide cerita, masa syuting dan produksi. Mereka berani mengeksplorasi berbagai ide cerita berdasarkan tema pokok yang ditetapkan pihak SMP St. Yakobus, yaitu keadilan.

Keberanian ini juga muncul dari berbagai upaya mereka mengupayakan berbagai properti, lokasi syuting dan perekrutan aktor tambahan.

“Ada yang sampai sewa warung dekat rumah untuk lokasi syuting beli barang di warung. Bahkan, mereka menyewa truk damkar untuk membuat efek hujan!” kata Pak Saryo, guru Seni Budaya dan Prakarya yang telah purna karya setelah mengajar di Sekolah St. Yakobus selama lebih dari 20 tahun.

Pihak guru hanya berperan mendampingi. Selebihnya, para Yakobian yang berkarya.

“Dari proses pembuatan film ini, mereka mendapatkan pembelajaran yang tidak mereka temukan di ruang kelas,” ujar Pak Yosep, guru Seni Musik SMP St. Yakobus.

Salah satu tim produksi membuat surat permohonan ke manajemen kawasan untuk mendapat izin syuting di sebuah kawasan pengembang. Ini bukan sekadar tertib adminstrasi, tapi sebuah upaya ‘lebih’ dan serius dalam bekerja.

Salah satu adegan menunjukkan aktivitas kelas di masa lalu. Secara artistik, meja kursi yang dipakai harus sesuai dengan zamannya. Setelah tim produksi mendapat izin dari manajemen Sekolah St. Yakobus, mereka memasukkan 25 pasang meja kursi kayu lawas ke dalam salah satu ruang kelas.

Inilah semangat berbuat ‘lebih’ yang tertanam dalam diri mereka.  

Dari berbagai cara kreatif ini, menurut Bu Rini, SMP St. Yakobus menanamkan gugus nilai GREAT (God Loving – Responsible – Excellent – Adaptive Agile – Trustworthy) dalam diri para Yakobian. Secara khusus pada proyek pembuatan film ini, mereka mengalami pendidikan karakter dalam proses pembuatan film.

“Kalau kita cermati proses mereka, pada tahap itulah mereka sungguh mendapatkan value responsible dan trustworthy. Di situlah mereka memperoleh pendidikan karakter. Bukan di hasil akhir atau produknya,” ungkap Bu Rini.***