Foto : Theresia Kusmawati mendampingi siswa SMP dalam Sumatif Akhir Semester Ganjil TA 25/26 (SAS).
Bangunan sederhana, semi permanen, jika tidak bisa disebut bedeng. Sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai, Theresia Kusmawati harus membersihkan ruang kelasnya. Bahkan, pada tahun kedua, SMP Santo Yakobus sempat mengontrak di sebuah tempat di daerah sekitar Jalan Biru Laut, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Itu semua tidak menyurutkan semangat Theresia sebagai guru angkatan pertama SMP Santo Yakobus di tahun 1995.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Tahun ini, Theresia sudah mengajar selama 30 tahun di SMP Santo Yakobus. Bangunan yang bermula dari sebuah bedeng, kini menjelma menjadi gedung tinggi dengan berbagai fasilitas lengkap.
“Sekolah Santo Yakobus itu sudah terasa seperti rumah sendiri,” ujar Theresia sembari tersenyum.
Kenyamanan ini tampak dari rutinitas pagi Theresia. Ia termasuk salah satu guru yang datang paling pagi, sekitar pukul 5.30 WIB. Padahal, rumahnya berada di Bekasi.
Rentang waktu 30 tahun menjalani profesi guru di sebuah sekolah tentu sebuah prestasi tersendiri. Sebagai seorang guru yang sarat dengan pengalaman mendidik dan mendampingi anak remaja, Theresia merangkum semuanya dalam ungkapan sederhana.
“Guru itu digugu dan ditiru,” ujarnya.
Artinya, guru itu menjadi contoh dan teladan. Menurutnya, seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu yang ia miliki. Ia harus menjadi panutan atau teladan bagi seluruh muridnya.
Pandangan serupa juga muncul dari seorang Sri Sumardiyanto, guru matematika yang telah mengajar lebih dari 20 tahun di SMA Santo Yakobus
Menurutnya, mengajar tidak sama dengan mendidik. “Mengajar itu cuma sebatas transfer ilmu. Kalau mendidik itu lebih dari sekadar mengajar karena ada muatan akhlak, sikap (attitude),” ungkap lulusan jurusan teknik nulir Universitas Gajah Mada ini.
Foto : Sri Sumardiyanto saat mengajar di kelas matematika SMA.
Panggilan hidup dan teman
Pengalaman panjang sebagai guru juga dimiliki oleh Lusia Rini yang kini mengajar di unit SD Santo Yakobus. Tahun ini, Lusia telah melakoni profesi guru selama 25 tahun. Baginya, guru bukan hanya pekerjaan biasa.
“Guru adalah panggilan hidup yang harus saya pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sebuah panggilan hidup yang bermula dari cita-cita sejak kecil. Lusia bertekad menyelesaikan kuliah di jurusan pendidikan dan menjadi seorang guru. Passion juga menjadi bahan bakar yang menyemangatinya mengajar di kelas.
Sebagai guru, Lusia mengakui, dirinya hadir di kelas bukan hanya sebagai guru, melainkan sebagai orang tua bagi murid-muridnya. Hal inilah yang meruntuhkan tembok pembatas hubungan formal guru dan murid. Tanpa tembok formal itu, dirinya bisa merasakan kehadiran anak-anak dalam hidup kesehariannya.
Lusia menyadari, dunia berubah dan berkembang begitu pesat tanpa henti. SD Santo Yakobus harus tetap berkembang. Akan ada waktunya regenerasi. Beberapa tahun terakhir, ia merasakan semangat dan profesionalitas yang tinggi dari para rekan guru muda.
Perihal regenerasi ini, Lusia berpesan kepada rekan-rekan guru muda: jadilah guru, sahabat dan orang tua kedua bagi anak-anak. Kehadiran yang seperti ini akan memudahkan guru untuk menanamkan nilai kehidupan kepada para muridnya.
Hal ini juga diakui Andrianus Adi Pradana, rekan guru Lusia di SD Santo Yakobus. Sebagai guru muda, ia berpegang pada prinsip yang sesuai dengan pesan Lusi. Menurut Adi, seorang guru adalah teman bagi para muridnya.
“Guru sebagai teman berarti memberi ruang bercerita, entah itu kabar baik, rasa takut, maupun tantangan bagi mereka,” ujar Adi yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, ia harus menghadirkan rasa aman dan dapat dipercaya oleh para muridnya.
Adi mengakui, materi pelajaran bukan hanya tentang teknis menulis puisi atau cerita pendek. Ia harus mengajarkan cara mengekspresikan perasaan terdalam secara aman, jujur dan indah kepada para muridnya.
Mereka bisa menyampaikan kehidupan di keluarganya melalui tugas sekolah.Tiap kali membaca tugas sekolah, ia kerap menemukan hal-hal yang membuatnya tersenyum sendiri. Para muridnya senantiasa jujur bercerita.
Pada sebuah kesempatan, ia menugaskan para muridnya menulis puisi tentang orang tua mereka.
Semula ia mengira para muridnya akan membuat puisi tentang ayah yang bekerja dan ibu yang memasak di dapur.
Nyatanya, ia menemukan puisi yang berisi perjuangan ibu yang bekerja dari pagi hingga malam. Ada pula tentang ayah yang sering marah namun sangat sayang pada anaknya.
Tapi ada satu cerita yang berkesan baginya. Ada muridnya yang bercerita tentang sang ayah yang pelit berbagi ayam goreng, tapi selalu memberikan selimut jika malam itu terasa dingin.
Foto : Andrianus Adi Pradana dan Lusia Rini saat berbincang di ruang guru SD.
Terus berubah dan bertumbuh
“Kulkas ini warnanya biru karena dingin, Miss!” ujar seorang Yakobian cilik kepada Althea Calista, salah seorang guru TK Santo Yakobus. Yakobian cilik ini menjelaskan, jika dingin, biasanya berwarna biru.
Pengalaman melihat muridnya membuat kulkas dari kardus dan mewarnainya dengan krayon biru sungguh membekas di benaknya.
“Saya jadi sadar, mereka punya kapasitas untuk memahami konsep dengan sangat baik,” kata Althea Calista.
Althea menyadari, dirinya seorang guru. Namun ia merasa anak didiknya justru lebih banyak mengajarinya. Saat mengajar, mereka justru membuat dirinya belajar mendengarkan, sabar dan percaya pada potensi mereka sebagai individu yang unik.
Terlebih, penerapan Kurikulum Merdeka di TK Santo Yakobus juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan para Yakobian cilik. Dirinya bisa melihat langsung proses anak didiknya mengembangkan ide dan kreativitasnya.
“Mereka bisa jadi diri sendiri, apa adanya, dan mengerjakan tugas perkembangan mereka yang paling penting, yaitu bermain,” ungkap Althea.
Tak mengherankan jika Althea merasa banyak hal yang harus ia pelajari sebagai guru. Di sini, ia bersyukur ditemani rekan-rekan guru senior yang sudah berkarya selama puluhan tahun.
“Mereka mengajari saya untuk cekatan dan semangat, meskipun situasinya sedang tidak baik sekalipun,” katanya.
Dari berbagai pengalaman mengajar di TK Santo Yakobus, Althea menggambarkan pekerjaan guru TK sebagai “terus berubah dan bertumbuh.”
“Soalnya, tidak ada anak yang sama, kita tidak akan pernah menghadapi situasi yang sama setiap harinya.”
Foto : Althea Calista mendampingi peserta didik TK dalam kelas catechesis of the good shepherd (CGS).
Yang fana dan yang tidak fana
Seluruh Yakobian merayakan Hari Guru Nasional dengan perayaan ekaristi di aula lantai 5. Pada perayaan ekaristi ini, RP Firminus Maryanto, CM mengingatkan, Yesus telah mengkritik kita semua.
“Semua itu fana. Yang kelihatan indah bagi kita bisa hancur,” ujar Romo Maryanto, Selasa (26/11/2025).
Lebih lanjut, Romo Maryanto menjelaskan, seorang guru bisa kelihatan luar biasa. Namun, itu semua bisa fana. Yang tidak fana, menurutnya, adalah cinta, pengorbanan, kebaikan, jasa para guru bagi kita semua.
“Jadi ingatlah adik-adik. Ingatlah hari ini! Jangan lupa doakan guru-gurumu karena mereka mendidik kita atas dasar cinta, belas kasih dan mau berbagi ilmu,” katanya kepada seluruh Yakobian dari unit TK, SD, SMP dan SMA.
Selamat hari guru nasional!
***
Foto : Perwakilan Guru ST. Yakobus berfoto dengan para siswa yang mengenakan kostum yang pernah dan masih digunakan sebagai seragam pengajar di Yayasan Santo Yakobus.