Siang itu, Abednego Naryama Prasetyo berada di kamarnya bersama beberapa teman sekamarnya di Kinasih Resort & Conference, Depok, Kamis (13/11/2025).
Mau nonton televisi, tapi benda elektronik berlayar datar itu tidak mudah diajak kerja sama. Aliran listrik sudah mengalir. Tombol power sudah menunjukkan posisi menyala. Tapi yang tampak di layarnya hanya seperti kerumunan semut.
Berbagai cara sudah mereka coba. Hasilnya, tetap kerumunan semut yang tampak di layar.
Pikiran mulai berkelana: mau apa kita di dalam kamar selama 3 jam ke depan?
Mereka lantas melakukan berbagai permainan sederhana yang bisa mereka lakukan di dalam kamar, namun seru dan mengasyikkan. Alhasil, waktu 3 jam berlalu begitu saja.
Itu adalah satu hal yang paling berkesan bagi Nara ketika mengikuti Pelatihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi pengurus OSIS SMP Santo Yakobus.
“Dari pengalaman itu, saya melihat mereka betul-betul menggunakan kemampuan berpikir kritisnya,” kata Nara. Mereka tidak hanya berdiam diri ketika mengetahui televisi tidak menyala dengan semestinya.
Foto : Pohon yang menjadi titik kumpul saat games di hari kedua.
Selain itu, hal kedua yang menarik bagi Nara adalah salah satu permainan yang mereka lakukan di hari kedua, Jumat (14/11/2025).
Setiap kelompok mendapatkan 4 macam snack. Tugas mereka, menyambungkan tempat snack tersebut menuju pohon yang telah ditentukan dalam durasi waktu 5 menit.
“Di permainan itu banyak miskomunikasi di kelompok kami. Tapi saya malah senang karena itu menggambarkan nantinya akan seperti apa ketika ada penyelenggaraan acara atau kegiatan,” kata Nara.
Menambahkan penjelasan Nara, Jeremy Nathaniel menceritakan, momen paling berkesan adalah ketika sesi bersama para pengurus OSIS dan MPK SMA Santo Yakobus.
Menurutnya, pada sesi itu dirinya dan teman-teman OSIS SMP Santo Yakobus bisa belajar lebih bertanggungjawab sebagai organisasi.
“Karena sebagai satu organisasi, jika satu jatuh, semuanya jatuh bersama,” kata Jeremy yang sudah berpengalaman berorganisasi di tim MINE SD Santo Yakobus ketika kelas 6.
Jeremy yang menjabat Wakil Ketua OSIS berharap pengurus OSIS bisa menjadi contoh bagi seluruh Yakobian muda di SMP Santo Yakobus dan dapat bekerja sama sebagai sebuah organisasi yang kompak.
Sedangkan selaku Sekretaris 1, Nara bermimpi OSIS dapat menjelma menjadi sebuah organisasi yang membantu pihak sekolah untuk maju dan berkembang.
Foto : Peserta LDK bermain game lokaboratif saat sesi materi kepemimpinan Santiago.
Pengurus OSIS tahun ajaran 2025-2026 yang berjumlah 42 Yakobian dari kelas 7-9 SMP Santo Yakobus menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diampu oleh tim kesiswaan.
Pada hari pertama, Francis Krisnagara Slamet Harjaya, Kepala Pendidikan & Pengembangan Mutu, Yayasan Santo Yakobus, memberikan materi tentang kepemimpinan Santiago. Dalam sebuah perjalanan (camino), Frans menjelaskan pentingnya kolaborasi yang dinikmati dalam setiap aktivitas. Melalui kolaborasi itu, Frans menekankan perlunya kerja sama, saling jaga dan tiba pada tujuan secara bersama-sama.
Untuk itu, ia meringkas karakter baik pada diri seorang pemimpin, yaitu SANTIAGO (Solutif, Arah, Nyata, Tangguh, Iman, Alternatif, Gembira, Optimis).
Selanjutnya, Yohanes Baptista Isharyanto, guru Bahasa Indonesia yang sekaligus staf kesiswaan SMP Santo Yakobus, mengajak mereka untuk melihat ke dalam diri mereka. Pertanyaan dasarnya, apa potensi saya sebagai pribadi dan kelompok?
Paska sesi ini, para Yakobian melihat kembali situasi riil di sekolah bersama guru Bahasa Indonesia yang juga merangkap wakil kepala SMP Santo Yakobus, Valentinus Febianto Bayu.
Kemudian, pada sesi keempat, Yoseph Celltha Puput Prabowo, staf kesiswaan yang juga mengampu pelajaran musik mendampingi mereka untuk kolaborasikan semua potensi dan kemampuan mereka dengan kondisi riil. Hasil kolaborasi ini adalah program kerja OSIS yang akan dilakukan hingga tahun depan.
Foto : Peserta dan pendamping LDK OSIS SMP berfoto bersama saat penutupan acara.
Pada hari kedua, perwakilan pengurus OSIS dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) SMA Santo Yakobus hadir sebagai kakak kelas. Mereka membawakan permainan di ruang terbuka. Selain itu, mereka berbagi pengalaman tentang program kerja dan bercerita tentang kerja sama pengurus OSIS dan MPK yang mewakili semua peserta didik SMA Santo Yakobus.
LDK tahun ini bertema “Act Responsibly”. Perihal tema ini, Bayu menjelaskan, pengurus OSIS akan diarahkan untuk berani bertanggung jawab dan berani melakukan apa yang sesuai tugas mereka.
“Mereka juga harus berani melaksanakan tugas karena memang itu harus dikerjakan,” kata Bayu.
Dengan nada lebih serius, Bayu mengingatkan, sebagai sebuah organisasi, pengurus OSIS punya tanggung jawab. Ada konsekuensi. Ketika teman-teman sekelasnya berlibur, pengurus OSIS harus rapat di sekolah. Ketika yang lain belajar untuk Penilaian Harian (PH), pengurus OSIS harus menyiapkan kegiatan classmeeting, selain mempersiapkan diri untuk PH.
“Sebagai pengurus OSIS, ia punya tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang bisa mendampingi dan menjadi panutan bagi teman-temannya,” ujarnya.
Itu semua merupakan konsekuensi yang harus mereka terima sebagai bentuk tanggung jawabnya. Maka, “Act Responsibly” berarti “ayo, bertindaklah dengan penuh tanggung jawab!”
***
Ayo lihat foto-foto keseruan mereka di Instagram yuk!