CGS dan JSK

Pagi itu, para murid TK B menghias sebuah kata di Atrium level satu yang berada di samping Gua Maria. Mereka goreskan krayon aneka warna ke lembaran kertas bertuliskan kata “Haleluya”. Kemudian, mereka masukkan lembaran kertas yang telah dihias itu ke dalam sebuah kotak kayu, menguncinya, kemudian berdoa.

“Kami beritahukan kepada mereka, selama menjalankan masa pra Paskah ini, kata ‘Haleluya’ tidak digunakan,” ujar Khatarina S. Suwito, katekis Catechesis of Good Sheperd (CGS) yang kerap dikenal dengan nama Miss Rina.

Sebagai salah satu program unggulan di Sekolah Santo Yakobus, CGS merupakan pendidikan iman anak dengan metode Montessori yang diberikan kepada para murid di jenjang taman kanak-kanak serta kelas 1 dan 2 sekolah dasar. Materi pembelajaran CGS mengikuti kalender liturgi Gereja Katolik.

Salah satu materi yang mudah dipahami anak adalah pergantian warna liturgi.  Sebagaimana yang terjadi pada Gereja Katolik, materi CGS di masa pra Paskah mulai pada hari Rabu Abu. Warna liturgi pun berubah dari hijau menjadi ungu.

“Anak-anak sudah tahu arti warna ungu. Artinya masa persiapan untuk mempersiapkan diri sebelum perayaan. Advent adalah persiapan untuk natal dan pra paskah adalah persiapan untuk paskah,” kata Miss Rina yang juga seorang guru TK Santo Yakobus.

Para Yakobian cilik mengeksplorasi tekstur adonan tepung beragi pada salah satu sesi CGS.

Sesuai modul CGS yang telah dipersiapkan, pada masa biasa dan masa pra paskah,  para Yakobian cilik diajak mengenal perumpamaan Kerajaan Allah, salah satunya adalah perumpamaan tentang ragi.

Pada sesi perumpamaan ragi ini, mereka mengaduk tepung yang beragi dan tidak beragi. Dari aktivitas sensorik ini, mereka mengamati perubahan yang terjadi pada kedua jenis tepung. Tepung beragi berubah menjadi lebih besar ketimbang tepung tak beragi.

Miss Rina menjelaskan, tujuannya adalah mereka menyadari bahwa Tuhan memilih sesuatu yang kecil. Namun dengan kuasa-Nya, Ia dapat melakukan sesuatu yang besar.

Usai mengaduk tepung beragi, pada pekan berikutnya, para katekis mengenalkan Mazmur 23. Dengan materi ini, para yakobian cilik diajak merenungkan Gembala yang baik.

“Gembala yang Baik sangat mencintai domba-dombanya. Hal ini sangat cocok untuk anak-anak usia 3-6 tahun yang senang mencintai dan juga dicintai. Kita berharap anak-anak jatuh cinta dengan Tuhan melalui materi-materi di Atrium. Akhirnya, mereka akan menyadari bahwa para domba yang dikasihi dan dilindungi Sang Gembala Baik tadi adalah diri mereka sendiri. Sang Gembala yang Baik itu adalah Tuhan Yesus, ” ujar Miss Rina.

Selain itu, materi ini mengajarkan para yakobian cilik untuk senantiasa bersyukur. Hal ini tampak dari setiap ucapan doa mereka yang hanya mengucapkan syukur. Bukan permohonan atau permintaan.

Usai mengenal Gembala yang baik di pekan sebelumnya, materi pekan keempat adalah domba yang ditemukan. 

“Kami bahas materi tentang domba yang ditemukan. Ini untuk merenungkan bahwa Sang Gembala yang Baik sangat mengasihi domba-dombaNya, dan ketika kehilangan salah satu domba, ia mencari domba tersebut sampai ditemukan ” ujar Miss Rina.

Tentang aktivitas ini, Miss Rina menerangkan, katekis bukan mendongeng seperti pendongeng pada umumnya. Katekis CGS membacakan firman Tuhan yang termuat dalam Alkitab dan dimuat dalam bentuk booklet sederhana yang mudah dipahami anak kecil. Satu booklet memuat satu cerita dari Alkitab.

Para Yakobian cilik melaksanakan Upacara Cahaya bersama Miss Rina.

Upacara Cahaya

Level dua program CGS di sekolah St Yakobus diberikan bagi para murid kelas 1 dan 2 SD.

Salah satu kegiatan yang dilakukan di atrium, baik di level 1 maupun level 2 adalah Upacara Cahaya. Upacara Cahaya merupakan peringatan dan perayaan Kebangkitan Yesus. Semua lampu dimatikan. Yang menyala hanyalah lidah api di lilin Paskah.

Yashinta Ratri yang akrab disapa Miss Shinta mengajak mereka untuk melakukan Upacara Cahaya. Sementara itu rekan Miss Shinta, Miss Dea, panggilan populer Agatha Dea Dalamanta di SD St. Yakobus, bersiap memandu mereka dalam Upacara Cahaya. Sebuah lilin Paskah dan empat buah dupa telah siap.

Mereka pun berbaris dan melakukan ritus yang selalu dilakukan saat perayaan ekaristi di malam Paskah. Miss Dea mengarahkan mereka berjalan perlahan mengikuti rute yang telah disiapkan. Hingga akhirnya mereka berhenti di satu titik. Di situ, mereka berdoa, bernyanyi dan menerima Cahaya Paskah dalam bentuk lilin kecil yang menyala.

“Jadi hari ini kami adakan perayaan. Namanya Upacara Cahaya, di mana anak-anak seperti ikuti Perayaan Suci Paskah. Namun dalam skala yang memang lebih sederhana dan mudah dipahami mereka,” ujar Miss Dea ketika ditemui di Atrium level dua.

Perihal materi CGS level dua, Miss Shinta menegaskan, pada masa pra Paskah, beberapa materi yang diberikan diantaranya perjamuan terakhir, lalu kisah sengsara Yesus hingga wafat, dimakamkan dan bangkit yang terdapat dalam materi peta Yerusalem, materi kubur kosong. Anak-anak diajak untuk merenungkan tentang kasih Tuhan Yesus, misteri kehidupan dan kematian melalui materi-materi yang ada.

“Materi tersebut terhubung ke Kamis Putih dan Jumat Agung. Anak-anak biasanya sudah tahu tentang Pekan Suci Paskah. Materi kami disusun mengikuti liturgi Gereja Katolik,” kata Miss Shinta.

Salah satu adegan penyaliban Yesus dalam JSK.

JSK

Para Yakobian kelas X melakukan sebuah ritus yang berbeda dari sekadar ritual Jalan Salib pada umumnya. Pada masa pra Paskah tahun ini, mereka melakukan Jalan Salib Kelas (JSK). JSK berbeda dari jalan salib yang biasanya dilakukan di gereja. Jika biasanya jalan salib berupa ibadat yang dilakukan pada setiap pemberhentian, kali ini para yakobian melaksanakan drama singkat tentang penyaliban Yesus.

Secara umum, JSK tidak beda jauh dengan jalan salib konvensioal. JSK tampil dalam bentuk drama, layaknya pementasan tablo ketika Jumat Agung di gereja.

Michelle, salah satu Yakobian yang terlibat mempersiapkan JSK di kelasnya.

“Aku gak pernah ikut drama jalan salib. Bahkan nonton pun gak pernah,” kata Michelle, Yakobian kelas X-3 yang berperan sebagai narator dalam JSK di kelasnya.

Melalui pengalaman JSK ini, Michelle mengakui baru bisa membayangkan penderitaan Yesus secara lebih mendalam.

Meski menjadi narator, Michelle mengakui dirinya sangat terkesan dengan karakter Bunda Maria. Selama ini dirinya sulit membayangkan perasaan, ekspresi dan sosok Bunda Maria ketika jalan salib.

Namun ketika melakoni JSK, Michelle bisa membayangkan lebih dalam.

“Ternyata, dia itu merasa sangat sedih. Sedihnya itu anaknya sendiri yang wafat dan berkorban untuk manusia. Aku sadar bahwa Bunda Maria merelakan Yesus untuk berkorban,” kata Michelle.

Mendalami karakter juga menjadi tantangan bagi William yang mendapat peran sebagai Yesus. Ia harus menonton film tentang kisah sengsara untuk bisa mengenal karakter Yesus.

William, salah satu Yakobian yang melakoni peran Yesus, meski dirinya bukan seorang Katolik.

“Dari menjalani peran sebagai Yesus, saya jadi belajar untuk menghargai apa yang saya dapat. Saya harus merasa bersyukur setiap saat karena kita diberi kesempatan dalam hidup. Bahkan Ia rela berkorban demi kita semua,” kata William.

Proses persiapan yang cukup panjang di tengah padatnya jadwal belajar dan kegiatan di sekolah ternyata memberi kesempatan bagi William untuk belajar mengelola waktu sebaik mungkin.

Perihal JSK ini, Veronika Rena, guru agama dan budi pekerja SMA St. Yakobus menjelaskan, ide membuat JSK ini muncul dari materi pelajaran agama dan budi pekerti kelas X di awal semester. Materinya adalah kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dari segi waktu, materi ini bertepatan dengan masa pra Paskah.

“Supaya lebih mudah dipahami, ya dipraktikkan, divisualisasikan. Sehingga mereka dapat faham betul materi tersebut. Bukan sekadar hafal dan tahu saja,” ujar Rena.

Maka ia pun membagi setiap kelas X menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok bertugas mempersiapkan JSK yang akan dipentaskan pada pekan penilaian harian (PH). JSK ini menjadi penilaian PH untuk mata pelajaran agama dan budi pekerti.

Yang menarik bagi Rena, para yakobian mampu melakukan latihan secara mandiri.

“Mereka bisa berkomitmen dan latihan dengan serius. Maka hasil kerja mereka menunjukkan upaya keras selama latihan,” ungkap Rena.***