Mentari pagi tampak ceria di akhir pekan kedua, awal tahun 2026. Perwakilan OSIS SMP Santo Yakobus dan beberapa guru pendamping menyusuri jalanan ke arah Cilincing, Jakarta Utara.
Usai menyusuri Jalan Belah Kapal yang ramai, mini bus milik Sekolah Santo Yakobus berbelok ke kanan. Jalan ini tidak beraspal, melainkan terbentuk dari kepingan pecahan kerang. Sebuah tembok setinggi hampir 2 meter terlihat di sisi kiri jalan. Tembok ini merupakan tanggul yang memisahkan laut dengan daratan. Sedangkan sisi kanan dipenuhi tempat-tempat pengolahan kerang.
Mini bus pun berhenti di depan sebuah gang. Rombongan SMP Santo Yakobus segera berjalan kaki memasuki gang yang bernama Kerang Hijau 2. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah bangunan sederhana yang digunakan TK Lumba-Lumba.
Sebuah ruang serbaguna tampak terbuka dari depan bangunan. Siapapun yang melewatinya dapat melihat aktivitas di ruangan tersebut.
Beberapa kursi kayu panjang ditaruh di salah satu sisi ruangan. Sebuah bendera bertuliskan Yayasan Sosial Lumba-Lumba Cilincing yang terikat di sebuah tongkat berada di salah satu pojok ruangan.
Pintu yang separuhnya kaca berada di dua sisinya. Pintu sisi kanan adalah akses menuju ruang kelas TK A. Sedangkan pintu sisi kiri adalah akses menuju dapur yang menyediakan makanan tambahan bagi para murid TK Lumba-Lumba.
Tidak ada dinding berwarna-warni. Tidak ada mainan anak. Tidak ada ayunan. Tidak ada seluncuran. Semua apa adanya. Sangat sederhana.
Sebagai salah satu bentuk pengabdian masyarakat, Petrus Sutrisno, Kepala Sekolah SMP Santo Yakobus, menyerahkan bantuan donasi kepada perwakilan Yayasan Sosial Lumba-Lumba Cilincing.
Aksi Natal SMP Santo Yakobus ini ditutup dengan pembagian bingkisan bagi seluruh murid TK Lumba-Lumba.
Ketika menerima bingkisan, para murid TK Lumba-Lumba tampak sumringah. Matanya berbinar. Wajah mereka ceria. Kegembiraan ini mengiringi langkah kaki mereka menuju ruang kelas.
***
Pagi itu, awal Desember 2025, Suster Ina, PK menjelaskan kondisi sosial ekonomi dan karakteristik umum masyarakat yang berada di sekitar Rumah Kerang.
Pekerjaan masyarakat yang tinggal di Cilincing secara umum tidak jauh dari pekerjaan yang tergolong kasar dan mengandalkan tenaga manusia. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai buruh kupas kerang, pemotong dan pembelah ikan teri, pemulung, penjemur ikan asin dan cumi, pencari karat besi kapal serta buruh cuci.
“Mereka yang bekerja sebagai buruh cuci, penghasilannya menurun. Jasa laundry itu murah banget. Sekilo bisa sepuluh ribu Rupiah, baju sudah bersih. Buruh cuci jadi gak laku,” ujar Suster Ina.
Warga Cilincing banyak yang merupakan pendatang dari luar Jakarta. Mereka tinggal di rumah kontrakan. Lingkungan mereka terkondisikan kasar, keras dalam sikap dan perkataan.
“Banyak di antara mereka yang pengangguran, kerap tawuran, terlibat narkoba dan minuman keras. Jadi lingkungan yang tidak baik untuk anak kecil,” kata Suster Ina.
Usai mendengarkan penjelasan Suster Ina, PK, empat perwakilan murid SD Santo Yakobus bersama empat guru dan Suster Evarista, HK menyerahkan donasi bantuan berupa sembako kepada Rumah Kerang.
Pada kesempatan tersebut, rombongan menyempatkan diri untuk melihat aktivitas bimbingan belajar yang dihadiri sekitar 50 anak kecil di lantai dua Rumah Kerang. Mereka duduk mengitari rangkaian meja kecil yang membentuk persegi panjang. Kursi meja yang mereka gunakan berwarna warni. Setiap anak membawa tas yang bermotif karakter tokoh super hero, kartun dan ilustrasi hewan. Tas itu menggantung di belakang kursi mereka.
Tak ada susunan meja kursi yang berjejer layaknya sebuah kelas. Tak ada seragam. Mereka mengenakan kaos dan celana panjang terbaik mereka. Di sana mereka belajar bersama layaknya sekolah.
Rata-rata mereka berusia 4-7 tahun. Mereka berjoget bersama sembari diiringi alunan lagu dari platform Youtube.
Keceriaan mereka seakan menghilangkan kerasnya kehidupan di kawasan Cilincing. Semangat mereka memendar kepada rombongan SD Santo Yakobus. Cahaya harapan bersinar di mata mereka.
***
Kehadiran Rumah Kerang di tengah warga Cilincing seakan menjadi oase yang menyegarkan. Para suster yang bertugas di sana membuat sejumlah program pemberdayaan sosial, ekonomi dan pendidikan bagi warga.
Selain bimbel bagi 428 anak kecil usia TK hingga kelas 6 SD, Rumah Kerang menyediakan sembako murah.
“Karena ada begitu banyak keluarga yang tidak mampu, maka kami harus memilih. Hanya 300 keluarga yang dibagi jadi dua kelompok,” papar Suster Ina.
Untuk paket berisi beras, gula dan minyak, harganya hanya Rp. 30.000,00. Tujuannya, agar warga menghargai apa yang didapatnya.
Selain itu, Rumah Kerang juga memberikan makanan tambahan bagi anak yang stunting dan tidak terlayani oleh Posyandu.
Terkait makanan, layanan ini juga menjangkau kaum lansia berupa makanan siap saji. Mereka cukup hadir ke Rumah Kerang dan menikmati makanan bergizi.
“Mereka tidak perlu memasak. Apalagi mereka ini belum tentu punya dapur dan kompor di rumahnya,” kata Suster Ina.
Sedangkan bagi kaum lansia yang tinggal di pinggir laut dan kondisi rumah memprihatinkan, staf Rumah Kerang akan mengirim makanan untuk mereka. Sejauh ini, terdata 20 lansia dan 19 keluarga pra sejahtera yang dilayani oleh Rumah Kerang secara rutin.
***
“Pak, kita kasih aja mereka itu tukang becak dan ibu pedagang kaki lima itu,” ujar Evangelene, salah satu murid SMA Santo Yakobus kepada Kristanto, guru SMA Santo Yakobus di sekitar kawasan pintu kereta Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Pada awal Desember 2025 lalu, mereka berkeliling untuk membagikan paket sembako kepada kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial.
Kaki mereka pun segera melangkah menuju seorang tukang becak yang sedang duduk di atas becaknya. Seketika wajah tukang becak itu menunjukkan senyum dan mata yang berbinar ketika menerima paket dari Evangelene dan Michelle.
Tak jauh dari situ, seorang ibu yang sedang duduk di lapaknya, berjualan aneka minuman kopi instan dan mie instan di trotoar. Mereka segera menghampirinya dan memberikan bingkisan sembako.
Mereka adalah bagian dari rombongan 12 murid sebagai perwakilan dari TK, SD, SMP dan SMA Santo Yakobus mengikuti program pengabdian masyarakat dalam rangka Hari Pangan Sedunia.
Tanpa mengenakan seragam atau atribut sekolah, mereka bersama sejumlah guru berkeliling di sekitaran Kelapa Gading, Pulo Gadung hingga kawasan bawah jalan tol Tanjung Priok dan sekitar Stasiun Pasar Senen.
Dengan menggunakan enam kendaraan milik guru dan karyawan, mereka berkeliling membagikan paket sembako kepada para pemulung, tukang becak dan pedagang kaki lima.
Mengenai kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Sr. Winanda, HK menjelaskan, kegiatan semacam ini mewujudkan nilai kasih Kristiani secara nyata. Secara khusus aksi berbagi pangan ini merupakan ungkapan iman yang hidup dan berpihak pada mereka yang kecil, lemah dan tersingkir.
“Kami mengajak para murid untuk mensyukuri anugerah pangan yang diterima setiap hari serta belajar berbagi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Suster Win juga mengatakan, kegiatan ini dapat membangun karakter peduli dan empati dalam diri para murid sejak dini. Sehingga nantinya akan terbentuk pribadi yang berbelarasa, rendah hati dan bertanggungjawab terhadap sesama.
“Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran akan hak setiap orang atas pangan yang layak dan kehidupan yang bermartabat,” kata Suster Win.***