Foto : Foto Yakobian bersama dengan Perwakilan Ponpes Darussalam.
Pada mulanya adalah perjumpaan. Dari perjumpaan itu, lahirlah cerita tentang persahabatan lintas iman, tentang remaja yang saling mengenal tanpa prasangka, dan tentang makna menjadi Indonesia yang sesungguhnya.
Itulah yang terjadi dalam Ekskursi Kebinekaan SMA Santo Yakobus. Ekskursi Kebhinekaan dirancang sebagai kegiatan pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman hidup. Melalui kegiatan ini, para Yakobian diajak untuk melihat Indonesia dari dekat. Mereka mengunjungi kelompok lintas agama, berbincang dengan tokoh agama, mengenal tradisi agama serta budaya, dan menyaksikan bagaimana perbedaan dapat bersanding dalam harmoni.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Oktober 2024, para Yakobian kelas XII bertemu dengan para santri di dua pondok pesantren di Ciamis, yaitu Pesantren Darussalam dan Pesantren Miftahul Ullum.
“Pengurus OSIS dari pondok pesantren menyambut dan mendampingi para Yakobian kelas XII selama ekskursi kebinekaan. Dari situ, mereka akhirnya saling follow akun Instagram untuk lanjut ngobrol dan berteman,” ujar Lorenta Tobing, Ketua Panitia Ekskursi Kebinekaan SMA Santo Yakobus Tahun Ajaran 2024/2025.
Foto : Yakobian bersama Perwakilan Ponpes Darussalam saat mengikuti Campus Tour.
Menjadi terang
Melalui Pastor Kepala Paroki Ciamis saat itu, yaitu RD. Mikael Kelly, sebagai fasilitator program, para Yakobian dapat mengalami interaksi nyata dan merasakan kehidupan para santri di Ciamis.
“Sekolah Santo Yakobus menjadi satu sekolah yang mengapresiasi pilihan iman anak-anak, entah kalian Katolik, Islam, Hindu. Iman itu menjadi penting karena akan mendasari pilihan hidup kalian di luar sana,” kata Romo Kelly dalam misa penutupan program ekskursi kebinekaan di Gereja Santo Yohanes, Ciamis, 30 Oktober 2024.
Ia mengatakan, banyak tantangan yang dihadapi para Yakobian.
“Tapi apa yang akan kalian lakukan dengan tantangan tersebut?” ujarnya saat khotbah.
Romo Kelly menjelaskan, umat Katolik di Ciamis tidak mau hanya berkeluh kesah terhadap situasi. Mereka tidak mau mengutuk kegelapan, tapi mau mencoba menyalakan sedikit terang.
Terang itu kini menyala di hati para Yakobian — dalam bentuk empati, persaudaraan, dan cinta pada Indonesia yang beragam namun satu. Bahkan, terang itu ternyata ditangkap oleh masyarakat luas, hingga diliput oleh berbagai media nasional.
“Terang yang kami nyalakan itu ternyata juga berbuah, yaitu apa yang kalian alami selama di pesantren. Sepuluh tahun lalu itu tidak pernah terbayangkan, bagaimana Gereja Katolik bisa menjadi terang di tengah masyarakat dan terang itu cukup banyak membawa kehangatan lewat persaudaraan, persahabatan,” ucap Romo Kelly.
Foto : Yakobian mengikuti perayaan ekaristi di Gereja Santo Yohanes, Ciamis, sebagai rangkaian penutup Ekskursi Kebinekaan tahun ajaran 2024/2025.
God Loving
Secara umum, program ekskursi kebinekaan yang menekankan pendidikan karakter ini, merupakan salah satu kegiatan pembelajaran kokurikuler.
Kegiatan pembelajaran kokurikuler adalah salah satu pengalaman belajar yang mengajak peserta didik memaknai proses belajar, juga melengkapi kegiatan pembelajaran intrakurikuler yang menekankan pada sisi akademiknya. Dengan demikian proses belajar peserta didik akan utuh.
“Seluruh program pembelajaran, baik intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler di Sekolah Santo Yakobus telah dirancang sedemikian rupa untuk mewujudkan profil lulusannya yang menghidupi gugus nilai GREAT Yakobian,” ujar Eko Hadi Purnomo, Kepala Sekolah SMA Santo Yakobus.
Ia menjelaskan, dari gugus nilai GREAT Yakobian, program ini menjadi sarana kami menanamkan nilai pertama, yaitu God Loving (mencintai Tuhan).
God Loving merupakan sikap hidup yang dasarnya adalah kedekatan personal dengan Tuhan. Sikap ini mulainya dari pengenalan personal dengan Tuhan dan sikap syukur atas kebaikan Tuhan.
“God Loving bukan hanya soal doa dan ibadah, tetapi juga tentang kepedulian. Tentang menjadi sahabat yang baik bagi mereka yang berbeda iman,” ujarnya.
Pasca ekskursi kebinekaan di Ciamis tahun lalu, Eko menemukan dua hal dari refleksinya. Pertama, menanamkan kebinekaan bukan sekadar mengajarkan perbedaan, tetapi menumbuhkan cinta yang menyatukan.
“Yang kedua, pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menggerakkan nurani dan memperkuat identitas kebangsaan,” ujarnya.
Foto : Eko Hadi Purnomo (berdiri), Kepala Sekolah SMA Santo Yakobus, saat berbicara di malam Ekskursi Kebinekaan tahun ajaran 2024/2025.
Dampak positif ekskursi kebinekaan
Ekskursi Kebinekaan ini ternyata mendapat banyak respon positif serta banyak diliput oleh media, serta mendapatkan perhatian masyarakat. Hal tersebut menghantar Kepala Sekolah SMA Santo Yakobus, Eko Hadi Purnomo (inisiator dan penggerak program) mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai Kepala SMA Terbaik Kesatu kategori Dedikatif tingkat Provinsi DKI Jakarta di ajang Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) 2025 karena dinilai telah berkontribusi memperkuat nilai-nilai kebhinekaan sejati.
Pada tahun ajaran 2025/2026 ini, perjalanan Ekskursi Kebinekaan berlanjut dan melebar ke wilayah Magelang, Jawa Tengah. Selama empat hari (8–11 Desember 2025), seluruh Yakobian kelas XII akan berjumpa dengan para santri di Pondok Pesantren SELAMAT dan para calon biksu di Vihara Mendut.
Selanjutnya, mereka akan berjumpa dan berinteraksi dengan Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU). Di sana, para Yakobian akan melihat realitas aliran kepercayaan tersebut yang mungkin sama sekali belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Rangkaian perjumpaan ini akan berakhir di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Mertoyudan. Dengan rangkaian ini, wawasan kebinekaan para Yakobian akan diperkaya dengan mengenal berbagai budaya, agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia, khususnya agama Islam, Budha dan Katolik.
Tujuan ekskursi kebinekaan
Menjadi seorang Yakobian berarti mampu menemukan makna keberagaman dan menghidupinya di tengah masyarakat dengan baik.
Inilah tujuan program ekskursi kebinekaan yang disampaikan Daniel Ari Purwanto, Ketua Panitia Ekskursi Kebinekaan 2025/2026, akhir Oktober 2025.
“Jadi jangan hanya konsepsi-konsepsi atau persepsi-persepsi tentang keberagaman yang muncul dari berbagai konten di media sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan, proses memaknai keberagaman di program ini mendorong Yakobian untuk mendalami seluruh praktik hidup keseharian teman-teman mereka yang berbeda.
“Ketika mereka terjun langsung dan mengalaminya sendiri, itu sebuah proses yang sangat mendalam,” kata Daniel.
Daniel menegaskan, toleransi bukan hanya teori atau konsep yang dibahas di dalam kelas. Toleransi harus sungguh dipahami dan menjadi sikap nyata di hadapan perbedaan iman.
Di sanalah, mereka akan melakukan suatu perjalanan belajar yang membawa mereka melangkah keluar dari tembok kelas, menapaki jejak lintas budaya dan agama, berinteraksi dengan masyarakat, dan menemukan makna kebersamaan yang nyata.
***