Foto : Siswa SD menampilkan tarian tradisional dalam seminar parenting & art Showcase SD Santo Yakobus
Dengan menggabungkan parenting seminar dan art showcase dalam sebuah acara yang melibatkan seluruh Yakobian cilik dan orang tua, SD Santo Yakobus ingin membangun kolaborasi yang lebih kuat antara keluarga dan sekolah.
Hal ini disampaikan Fransiska Monalisa Angela, Ketua Panitia Parenting Seminar dan Art Showcase SD Santo Yakobus, di sela aktivitas mengajarnya, Senin (17/11/2025).
Melalui acara ini, orang tua dapat melihat langsung bagaimana anak berekspresi, berlatih percaya diri dan belajar bertanggung jawab. “Maka sebenarnya parenting seminar dan art showcase itu saling melengkapi,” kata Mona.
Pada semester gasal Tahun Ajaran 2025/2026 ini, tema kegiatan parenting seminar dan art showcase adalah “Budaya Jakarta, Warna Nusantara: Berkarya dengan Percaya Diri dan Tanggung Jawab”.
Dengan tema kegiatan yang berfokus pada percaya diri dan tanggung jawab, Mona menegaskan, SD Santo Yakobus dan pembicara berkomitmen membangun karakter Yakobian cilik melalui kerja sama dan pola pengasuhan dari orang tua di rumah.
“Kepercayaan diri merupakan fondasi agar murid berani untuk mencoba, berani tampil, dan menghargai karya sendiri,” ujarnya.
Sedangkan perihal tanggung jawab dalam kegiatan ini dapat dilihat dari proses para Yakobian cilik menyiapkan diri dalam kegiatan ini, disiplin saat berlatih bersama teman-temannya, hingga mengambil peran masing-masing dan mampu menyelesaikannya. Mereka berhasil menyajikan berbagai pertunjukan seni Betawi di panggung dan aneka prakarya tentang budaya Betawi di depan kelas.
“Secara khusus perihal aspek tanggung jawab, kami berkomitmen untuk membentuk mereka menjadi Yakobian yang menghidupi nilai responsible dalam gugus nilai GREAT Yakobian,” kata Mona.
Lebih lanjut, Mona juga menjelaskan, tujuan parenting seminar dan art showcase ini menyasar dua pihak, yaitu para Yakobian dan orang tua.
Bagi orang tua, parenting seminar ini dapat membekali orang tua dengan pemahaman perkembangan anak, agar dapat terjalin hubungan baik antara sekolah dan orang tua dan menyelaraskan pola pikir dan pola asuh orang tua untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan tanggung jawab anak.
Sedangkan bagi para Yakobian, art showcase ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan menguatkan karakter tanggung jawab, menghargai budaya Betawi serta menjadi ajang ekspresi diri para Yakobian.
Foto : Antusiasme orang tua siswa saat pendaftaran ulang acara seminar & art showcase.
Percaya diri
Kepercayaan diri merupakan pondasi bagi kemandirian seorang anak. Ketika ia sudah hidup mandiri, artinya ia harus bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Ini semua harus dilatih sejak dini.
Hal ini disampaikan Hanlie Muliani, psikolog, dalam parenting seminar di Aula Sekolah Santo Yakobus, pertengahan Oktober 2025.
“Jadi hal terpenting yang perlu dibangun di usia satu tahun itu adalah rasa percaya (trust),” kata Hanlie di hadapan para orang tua.
Pada tahap awal ini, orang tua harus perhatikan bagaimana anak bisa memercayai orang terdekatnya, lingkungannya, dunianya hingga terbentuk rasa aman (secure). Rasa aman ini harus meliputi rasa aman terhadap dirinya sendiri, terhadap dunia yang ia hidupi. Ini adalah fondasi perkembangan emosi dan dimensi sosial anak.
“Nah, ketika anak-anak terpenuhi kebutuhannya, anak merasa secure dan munculah rasa trust pada dirinya,” ujarnya.
Pada tahap ini, ia menyebutkan pentingnya secure attachment dalam diri anak. Secure attachment adalah sebuah “gaya keterikatan yang aman dan sehat, di mana seseorang merasa nyaman menjalin hubungan yang erat dan penuh kasih sayang dengan orang lain karena mereka percaya diri dan nyaman dengan keintiman emosional.”
Selanjutnya, dia menunjukkan munculnya bibit otonomi atau kemandirian dalam diri anak berusia 1-3 tahun. Perilaku anak yang sering kali muncul di tahap ini adalah anak mengikuti aktivitas yang dilakukan orang tua, seperti menyapu, mencuci piring. Bahkan, tidak jarang anak mulai menyatakan, ia ingin makan sendiri, walau akhirnya makanannya akan berantakan. Ini merupakan bukti perilaku yang menunjukkan bibit otonomi sudah mulai berkembang.
Ketika bibit otonomi mulai berkembang, orang tua harus memberi ruang dan dukungan, bukan memadamkannya. “Gak apa, untuk mengembangkan kemandirian, kadang ada ‘harga’ yang harus dibayar. Makanya ada ungkapan: berani kotor itu baik!”
Selanjutnya, dia menjelaskan, pada usia 6-12 tahun, yang notabene usia jenjang pendidikan dasar, critical issue di sini adalah kecakapan diri yang sesuai porsinya. Contoh sederhananya adalah menata buku sendiri. Pada kelas 1-3, anak masih harus dibantu orang tua. Namun, bantuan ini harus dikurangi secara bertahap di kelas 4.
“Ketika anak usia dini dibantu orang tuanya, tentu ia merasa senang. Tapi anak itu sudah bisa membandingkan dirinya dengan teman-teman sebaya,” katanya.
Saat ia melihat teman-temannya sudah bisa menata buku sendiri, sementara ia sendiri masih dibantu orang tua, akan muncul inferioritas. Bukan kepercayaan diri.
Kepercayaan diri akan muncul ketika ia bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Ini akan menjadi pondasi untuk nanti ke arah kemandirian.
Foto : Narasumber parenting, Hanlie Muliani saat mengikuti open discussion dengan orang tua siswa.
Tanggung jawab
Sebagai seorang psikolog klinis, Hanlie menegaskan, perkembangan manusia itu seperti domino effect. Apa yang terjadi di masa lalu memengaruhi perkembangan di usia selanjutnya.
Sehingga harapannya, jika di fase awal, jenjang SD, anak sudah mengembangkan kepercayaan dirinya, anak memiliki fondasi yang kuat saat remaja, ketika ia mencari identitas diri.
“Tapi kalau di usia sebelumnya, perasaan bersalah dan rendah diri berkembang, anda bisa bayangkan ketika ia remaja. Ia tidak percaya diri dengan dirinya,” ujar psikolog klinis yang menulis buku “Parent-Child Happy Relationship” dan “How to Deal With Your Child”.
Dia mengatakan, ketika inisiatif anak dikembangkan, anak mendapat kesempatan dan otonominya tumbuh. Hal ini akan berdampak pada perasaan anak bahwa “aku berharga, aku berguna.” Ini akan menjadi fondasi kesehatan mental anak.
“Anak-anak yang diberikan kesempatan melakukan hal seperti itu, depresinya drop,” ujarnya. Depresi adalah sebuah “gangguan suasana hati serius yang memengaruhi cara anak merasa, berfikir dan berperilaku.” Depresi bukan sekadar perasaan sedih sementara.
Untuk menumbuhkan inisiatif, otonomi dan kepercayaan diri dalam diri anak, Hanlie mengingatkan, orang tua perlu sadari bahwa anak merupakan kreator kehidupannya sendiri. Ia mewujudkan rancangan Tuhan dalam kehidupannya sendiri. Sedangkan orang tua hanyalah memberikan dukungan kepadanya. Maka, anak harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Bukan menyalahkan orang tua atas kehidupannya sendiri.
Ketika bicara tentang tanggung jawab, ia menggambarkannya sebagai sesuatu yang berkembang secara bertahap. Mulai dari lingkup kecil dan semakin lama semakin besar lingkupnya.
“Mulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri. Nah anak-anak SD mulai belajar terhadap diri sendiri. Lalu mulai belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan terdekatnya, dengan temannya, dengan kebersihan meja belajarnya di sekolah,” kata Hanlie.
Sekali lagi ia mengingatkan, ini perlu dilatih dari sekarang. Bagaimana caranya? Caranya adalah pengulangan yang akan membentuk kebiasaan (habit).
Ini merupakan cara kerja otak manusia, yaitu dengan jalur neuro habit, pengulangan terus dilakukan sampai akhirnya jalur itu menebal dan terbentuk satu kebiasaan. Neuro habit bukan sekadar kemauan keras.
Selama proses ini, yang diperlukan dari orang tua hanyalah ketulusan dan kesabaran.
Foto : Hasil karya siswa saat dipamerkan dalam art showcase.
Disiplin diri
Disiplin diri (self dicipline) merupakan kemampuan mengendalikan perilaku. Artinya, mengendalikan diri sendiri (self regulation), termasuk emosi, untuk mencapai tujuan.
Disiplin diri, menurut Hanlie, membentuk tanggung jawab (responsibility). Ketika seorang anak memiliki disiplin diri, ia lebih mampu menjalankan tanggung jawab karena ia bisa mengatur dirinya sendiri. Jadi perlu disiplin diri dahulu sebelum bertanggung jawab karena disiplin diri berarti menuntut self responsibility.
Lebih lanjut, ia mengajak para orang tua yang hadir di seminar ini untuk mengembangkan kedua hal itu dalam diri anak mereka.
Kemampuan mengatur diri sendiri atau meregulasi diri (self regulation) dalam diri seorang anak itu sangat penting. Kemampuan ini bernama executive function skill. Ini adalah sebuah cara untuk menjalani hidup.
Sembari menunjukkan materi presentasinya, Hanlie menyebut empat ketrampilan (skill) yang terdapat dalam executive function skill. Pertama, merencanakan, mengorganisasi yang sifatnya membuat tujuan. Kedua, kontrol diri (impulse control), meregulasi diri. Ketiga, fokus, fleksibilitas berpikir dan working memory. Keempat, kesadaran diri, sudut pandang.
Ia juga mengingatkan agar executive function skill sudah bisa dilatih sejak dini sesuai porsinya hingga seumur hidup. Jika kemampuan ini tidak dilatih, maka nantinya akan muncul adult with executive function problem seperti tindakan menyerobot antrian.
Jika orang tua kerap melakukan executive function skill anak-anaknya, maka anak-anaknya tidak akan mandiri dan tidak akan bertanggungjawab. Cara paling sederhana dengan melatih anak mengerjakan tugas yang harus ia kerjakan, seperti mempersiapkan buku pelajarannya sendiri.
“Biarkan anak belajar bertanggung jawab dan orang tidak perlu melindungi anak dari konsekuensi,” ujarnya.
Jika ada buku pelajaran yang tertinggal di rumah lantaran anak tidak teliti menata buku pelajaran di tasnya, orang tua tidak perlu susah payah menyusulkannya ke sekolah dengan berbagai cara.
“Mengasihi bukan berarti mengasihani. Justru mengasihani akan membuat anak jadi tidak bertanggungjawab dan tidak percaya diri,” ujar Hanlie menutup seminar hari itu.***