Melangkah Bersama, Satu Visi, Satu Hati, Satu Tim

Keluarga besar Yayasan Santo Yakobus merayakan HUT ke-37 Yayasan Santo Yakobus di Gereja Santo Yakobus, Paroki Kelapa Gading, Senin (27/7/2026).

Perayaan usia ke-37 ini, Yayasan Santo Yakobus mengambil tema “Melangkah Bersama, Satu Visi, Satu Hati, Satu Tim.”

Juliana Chen, Pelaksana Harian Yayasan Santo Yakobus menegaskan, “Bagi kami, semangat ini tidak hanya sekadar semboyan, melainkan sebuah janji untuk terus hadir dan relevan membawa kasih bagi masyarakat melalui dua pilar utama, yaitu: kesehatan dan pendidikan.”

Karya pelayanan di bidang kesehatan menjadi komitmen yang didasari pada kesadaran bahwa kesehatan itu sangat penting dalam kehidupan. Atas dasar itu, Klinik Pratama Bina Kasih kini hadir melayani masyarakat setiap hari (Senin–Minggu).

“Kami memperpanjang waktu pelayanan dengan satu harapan: agar klinik ini tak hanya menjadi tempat bagi para pasien untuk mencari kesembuhan, tapi sebuah tempat di mana mereka dapat merasakan juga layaknya sebuah keluarga yang siap merawat dengan prima dan sepenuh hati,” ujar Juliana.

Rumah kedua yang membentuk jiwa

Jika klinik merawat raga, Sekolah Santo Yakobus pun mendedikasikan diri untuk merawat jiwa dan karakter buah hati keluarga muda.

Bagi keluarga muda yang memiliki anak berusia 2 tahun, Daycare Santo Yakobus hadir sebagai tempat bertumbuh yang aman dan penuh kasih. Setiap guru dan pendamping di Daycare Santo Yakobus sungguh memahami pentingnya kepercayaan para orang tua terhadap perawatan jiwa dan karakter buah hati mereka.

“Saat buah hati Anda melangkah ke jenjang TK dan SD, kami mengajak para Yakobian cilik mengeksplorasi kehidupan alam di Kebun Laudato Si dan fasilitas mini zoo dalam program Nature Class,” ujar Juliana.

Dengan merancang materi pembelajaran kreatif luar ruang ini, tim guru akan mengajak para Yakobian cilik berlatih ketrampilan motorik, imajinasi, kreativitas dan daya berpikir kritis di alam.

Selain itu, Yayasan Santo Yakobus juga menyadari, sosok anak balita memiliki dimensi religiositas secara alami yang masih membutuhkan pendampingan secara intens.

Juliana juga menjelaskan, untuk memfasilitasi dimensi ini, Sekolah Santo Yakobus hadir sebagai sekolah pertama di Indonesia yang mengintegrasikan Catechesis of the Good Shepherd (CGS) ke dalam kurikulum TK dan SD, sebuah metode yang menyentuh religiositas secara sangat personal dan mendalam pada diri seorang anak.

(Ki-Ka) Judo Suwidji (Ketua Yayasan St. Yakobus), R.D. Tunjung Kesuma, R.D. Romanus Heri S. dan F.X. Sentosa Luhur, anggota Dewan Pengurus Harian (DPH) Paroki Kelapa Gading, memotong kue ulang tahun bersama para murid Sekolah St. Yakobus yang bertugas pada Misa Perayaan HUT Yayasan ST. Yakobus ke-37 di Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (27/7/2026).

Menempa pemimpin, merayakan keberagaman

Menjelang masa remaja, bibit kepemimpinan para Yakobian mulai ditempa melalui program MINE (Mindfulness, Intelligence, Networking, Empowerment – empat pilar penting dalam program kepemimpinan ini), agar mereka siap bersinar di OSIS pada jenjang SMP.

Saat mereka tiba di jenjang SMA, nilai akademik saja tidak cukup. Kegiatan Ekskursi Kebinekaan di Sekolah Santo Yakobus adalah sebuah program yang memfasilitasi para Yakobian muda berjumpa dan berinteraksi secara nyata dengan teman-teman sepantaran mereka di berbagai institusi pendidikan berbasis agama di berbagai daerah di Indonesia.

Program Ekskursi Kebinekaan ini merupakan bagian dari program humaniora yang melatih para Yakobian untuk siap melebur dalam masyarakat kita yang plural.

“Melalui program ini, kami meyakini bahwa toleransi di tengah kemajemukan adalah sebuah kekuatan bagi bangsa Indonesia,” kata Juliana.

Melangkah bersama menuju generasi GREAT

Di balik semua pengalaman berharga para Yakobian ini, melalui divisi Learning Improvement & Innovations, Yayasan Santo Yakobus terus berupaya meningkatkan kompetensi dan kapasitas para guru. Dengan demikian, seluruh tenaga pendidik di Sekolah Santo Yakobus akan selalu berinovasi dan kreatif dalam menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermutu bagi seluruh murid.

Muara dari dedikasi ini adalah lahirnya generasi yang menghidupi gugus nilai GREAT (God Loving, Responsible, Excellent, Adaptive Agile, Trustworthy).

“Dengan kesatuan hati, visi, dan gerak, kami semakin berakselerasi di tengah zaman yang melaju dengan cepat sekaligus tetap relevan menjawab kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan,” ujar Juliana.

Yayasan Santo Yakobus ingin memastikan setiap pribadi yang dilayani akan sungguh merasakan sentuhan kasih Tuhan dalam setiap pelayanannya.

PR dunia pendidikan di Indonesia

Ditemui pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-37 Yayasan Santo Yakobus, Senin (27/7/2026), di Gereja Santo Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara, R.D. Romanus Heri Santoso, Ketua Dewan Pembina Yayasan Santo Yakobus, melihat dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah, yaitu menanamkan moralitas dan integritas dalam diri seorang murid. Kedua hal ini harus menjadi yang utama dalam dunia pendidikan di Indonesia.

“Zaman sekarang itu tidak cukup hanya menjadi pintar di sekolah. Sudah banyak orang pintar di Indonesia. Tapi moralitas dan integritas itu penting bagi bangsa ini,” ujar R.D. Romanus.

Secara lebih spesifik, R.D. Romanus menegaskan, pendidikan karakter yang membentuk moralitas dan integritas telah menjadi sebuah investasi jangka panjang untuk bangsa Indonesia.

Tantangan dunia pendidikan

Pada perayaan tersebut, seluruh murid, guru, karyawan, pembina dan pengurus Yayasan Santo Yakobus mengungkapkan syukur dengan menyelenggarakan Perayaan Ekaristi Perayaan HUT ke-37 Yayasan Santo Yakobus di Gereja Santo Yakobus, Paroki Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Melalui perayaan ekaristi bernuansa inkulturasi ini turut dihadiri pula para orang tua dari murid TK St. Yakobus.

Seusai perayaan ekaristi, seluruh guru dan karyawan mengikuti sesi ramah tamah di aula Gedung Pastoral Paroki Kelapa Gading.

Pada kesempatan itu, Judo Suwidji, Ketua Yayasan Santo Yakobus melihat tantangan dunia pendidikan saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi, terutama kecerdasaan buatan (Artificial Intelligence/ AI).

Di satu sisi, teknologi kecerdasan buatan saat ini telah mampu menyuplai berbagai informasi sesuai kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, kecerdasan buatan dapat menyediakan aneka informasi, data dan teori yang dibutuhkan untuk pembelajaran. Namun, di sisi lain, para praktisi pendidikan harus menyadari pula dua titik kritis di tengah kecanggihan teknologi saat ini.

Titik kritis pertama

“Gunakan teknologi, seperti kecerdasan buatan, untuk memperluas wawasan. Tapi bukan untuk menggantikan proses berpikir.” ujar Judo di hadapan para guru dan karyawan Sekolah Santo Yakobus.

Berbagai informasi, data dan teori yang tersaji dari hasil kerja kecerdasan buatan hanyalah sebuah informasi awal yang masih mentah. Belum teruji kebenaran dan validitasnya.

“Maka kita harus tetap bersikap secara kritis. Sikap kritis ini kita gunakan untuk menguji dan mengolah informasi awal yang disajikan kecerdasan buatan. Proses ini bisa kita lakukan bersama para murid sebagai proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis,” kata Judo.  

Dengan ini, Judo menekankan, teknologi tetaplah hanya sebuah alat bantu yang harus dikuasai oleh para guru dan murid. Ia bukanlah majikan yang mendikte cara berpikir, cara bertindak dan cara merasa seorang murid.

Titik kritis kedua

Judo mengutip Ensiklik Magnifica Humanitas, nomor 239 yang tertulis demikian, “Budaya digital melipatgandakan koneksi dan menawarkan peluang-peluang baru untuk interaksi; namun, hati manusia tetaplah sebuah kebutuhan yang tak dapat tergantikan untuk kedekatan yang tulus.”

Dengan melihat fenomena peran teknologi kecerdasan buatan yang terdapat di berbagai media sosial, Judo mengingatkan, kecerdasan buatan tidak memiliki hati.

“Kecerdasan buatan itu tidak bisa merasakan empati, kasih sayang serta ketulusan antara guru dan murid, anak dengan orang tuanya,” ujarnya.

Inilah kehebatan manusiawi yang tidak tergantikan oleh teknologi. Judo pun mengajak para guru dan karyawan untuk tidak membiarkan layar perangkat digital mengikis rasa kesopanan dan etika sosial yang berlaku di masyarakat dan sekolah.

Judo mengajak seluruh guru, dokter dan karyawan Yayasan Santo Yakobus yang menaungi karya pelayanan Klinik Pratama Bina Kasih dan Sekolah Santo Yakobus untuk menjadikan gugus nilai GREAT (God Loving, Responsible, Excellent, Adaptive Agile, Trustworhty) Yakobian sebagai kompas.

Dengan demikian, gugus nilai GREAT akan menjadikan seluruh anggota keluarga besar Yakobian sebagai pribadi yang cerdas secara intelektual, namun tetap berakar kuat dalam kasih dan kemanusiaan.

Mari melangkah bersama kami. Tuhan memberkati.***